Merasa Pintar ≠ Pintar Merasa

Sering kita merasa takwa
Tanpa sadar terjebak rasa
Dengan sengaja mencuri-curi
Diam-diam ingkar hati

Pada Allah mengaku cinta
Walau pada kenyataannya
Pada harta, pada dunia
Tunduk seraya menghamba

Potongan nasyid SNADA berjudul “Belajar dari Ibrahim” ini tetiba terngiang begitu saja sepanjang perjalanan ke pasar siang tadi.
Kok ndredeg banget ke hati. Kan tanpa sadar jadinya ngembeng untung pak helm😆

Manusia kadang memang lucu ya.
Mengaku cinta pada Allah tapi sering dengan sadar nyerempet2 maksiat, selingkuh niat.
Sadar yg dilakukan salah, tapi hati tuh ingkar. Nganggep ini cuma dosa kecil. Padahal dosa-dosa kecil yg menumpuk bisa bikin hati mati. Gak peka. Lama-lama hidayah bisa masuk. Ampuni hamba, Ya Allah :”(

Bagi saya pribadi, hidayah bukan cuma proses kita dari gk tau jadi tau. Hidayah datengnya gak cuma sekali. Tapi bisa berkali-kali. Sama kaya hijrah, harus berjilid-jilid. Makanya ada sayyidul istighfar di zikir pagi dan petang, ya fungsinya untuk taubat setiap saat. Hijrah berkali-kali.

Pernah gak ngalamin ;
Tetiba netes denger lantunan ayat quran?
Tetiba merasa bersyukur liat orang yg dibawah kita?
Tetiba mau sedekah?
Tertampar baca postingan orang?
Klo pernah, mari bersyukur.
Itu salah satu tanda kalau Allah lagi ngelembutin hati kita.
Kejadian-kejadian di atas juga bisa dibilang hidayah. Apapun yang membawa kita melakukan kebaikan, itu hidayah.

Balik lagi ke lirik nasyid di atas.
Mengejar dunia, mengejar harta itu gk salah. Sama sekali gak salah. Yg salah adalah, klo segala sesuatu yg kita upayakan bikin kita jauh dari Allah.

Setan itu jago banget nipu manusia, bikin kita mati-matian ngejar harta awalnya biar bisa sering sedekah, biar bisa bantu banyak orang, begitu dikasih harta, lupa.
Udah mah ngejar dunia, lupa sama Allah. Begitu diuji, ngeluhnya “salahku apa, Yaa Allah?”

Saking halusnya tipu daya setan, kadang kita dibikin buta klo yang kita lakuin itu salah, tapi kita cuek. Ada yang nasihatin, kita gak terima. Ada yang ngingetin, kita tolak.

Banyak orang yang merasa pintar. Tapi sedikit yg pintar merasa.
Saya teringat dengan seorang teman, ketika berboncengan motor dengannya motornya oleng karena menghantam lubang jalanan. Alhamdulillaah refleknya bagus, kami gak sampai kecelakaan.
Lalu kami menepi ke pinggir jalan. Awalnya saya kira dia mengantuk, padahal siang hari, tapi ternyata enggak. Saya tanya : “kenapa, ukh?” Dia gak jawab, cuma bales senyum, trus langsung nelpon ibunya, minta maaf karena pas berangkat lupa cium tangan ibunya. Saya cuma bisa ngebatin, ‘ Ya Allah, sampe segitunya dia evaluasi diri sendiri’.

Ternyata memang ada orang-orang yg kaya gitu. Tiap dapet kesusahan, dia selalu inget-inget maksiat apa yg udah dia perbuat. Karena baginya, segala kesulitan yg didapat, itu karena perbuatannya sendiri.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Namun ada juga yang sebaliknya.
Berkali-kali dikasih ujian, berkali-kali dikasih musibah. Tapi gak sadar kalo itu adalah teguran dari Allah. Teruuus aja ngelakuin kesalahan. Terus asiiik aja nurutin hawa nafsu. Teruuus aja cuek sama semua laranganNya.

Karena apa? Karena hatinya udah gak peka. Karena hatinya udah banyak ingkar. Karena hatinya udah gak mampu meraba. Yang paling serem, klo ujung2nya Allah cuekin kita. Kita dipalingkan dari kebaikan. Dibikin enggan untuk beramal shalih. Dibikin males ibadah. Dibikin males mengingatNya.
Na’udzubillaah 😭😭😭

Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita semua, sehingga kita bisa jadi manusia yang bukan hanya merasa pintar, tapi juga pintar merasa. Aamiin..

Allahu a’lam bish-shawab

Qul : Amantu billahi Tsummastaqim

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Potongan hadits pada judul tulisan ini pernah menjadi password akun facebook saya 8 tahun yang lalu. Di salah satu sudut masjid, guru ngaji saya pernah berpesan :
“Yang paling berat setelah Allah memberikan hidayah kepada kita adalah istiqamah.”

Tauhid dan Iman. Dua kata ini paling pas menjadi inti dari hadits di atas. Hadits ini menjadi pengingat bahwa ada ‘kontrak seumur hidup’ bagi setiap muslim yang hidup di muka bumi untuk beriman kepada Allah lalu istiqamah setelahnya. Ikrar ini selalu kita ulang di setiap shalat 5 waktu :
Inna sholatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘alamiin. Sesungghunya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Segala sesuatu yang kita kerjakan, segala apapun yang sedang diupayakan haruslah menjadi wasilah kita semakin dekat kepada Allah. Kerena jika bukan untukNya, bekal apa yang akan kita bawa saat kembali padaNya, kan?

Tapi memang sudah fitrahnya manusia jika pernah khilaf. Rasa bosan dalam beribadah. Kelelahan yang seolah membuat merasa saya sudah berbuat banyak, padahal masih sedikit sekali berkontribusi untuk ummat. Menganggap remeh maksiat. Dua dalil inilah yang menyelamatkan saya tatkala langkah saya tergelincir. Pernah menepi dari jalan dakwah, pernah menjauh dari teman-teman yang mengingatkan, pernah menolak semua nasihat yang diberikan. Hati saya mengeras. Lantunan ayat-ayat Allah yang dibaca bergantian saat ngaji pekanan tak juga menyadarkan saya yang sudah terlalu jauh menjauh. Namun, betapa beruntungnya saya yang dimasa itu memiliki teman-teman shalihah yang hatinya tulus dan tak pernah lelah menjaga saya dalam doa-doa mereka. Tak pernah bosan menanyakan kabar iman meski tak satupun aku menjawab semua sapaan.

Balik lagi ke “kontrak seumur hidup”. Beriman dan taat menjadi satu paket. Tidak dikatakan beriman jika kita masih melanggar segala apapun yang Allah larang. Taat tanpa keimanan pun akan sia-sia jika tidak berlandaskan keyakinan bahwa Allah akan menghisab semua yang kita kerjakan.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr : 18)

Istiqomah itu gak bisa sendirian. Kita sendiri yang harus bangun support system. Pegang erat mereka yang peduli akhiratmu. Rengkuh mereka yang masih mau menasihatimu. Menghadirkan lingkungan yang saling mengingatkan untuk taat adalah pekerjaan yang berat. Maka bersyukurlah jika masih ada yang mau bersusah payah menjagamu untuk tetap dalam ketaatan. Karena istiqomah itu ibarat perjalanan panjang yang hanya selesai jika kita sudah menjumpai ajal.

Keluh Kesah yang Terkabul (?)

Sejak kehadiran makhluk super kecil bernama Covid 19, kira-kira begitu dunia menyebutnya. Seluruh tatanan kehidupan manusia di muka bumi berubah. Berbagai negara menerapkan karantina wilayah, menutup akses keluar-masuk ke negaranya. Nilai dollar yang terus melonjak, harga bahan pokok melambung seiring meningkatnya permintaan pasar. Belum lagi perlengkapan melawan Covid 19 yang harganya ikut-ikutan gak wajar. Mulai dari hand sanitizer, Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis, masker, sarung tangan, hingga alcohol swab menjadi barang langka nan berharga di tengan pandemi yang melanda bumi.

Di Indonesia, sekolah, perkantoran, ruko-ruko pedagang ikut diliburkan selama 2 pekan. Menerapkan social dan physical distancing katanya. Sepekan pertama masih bisa survive. Optimis Covid 19 bisa diatasi dengan doing everything from home. Sayangnya ini hanya bisa diterapkan oleh kaum menengah ke atas. Yang setiap bulannya mendapatkan pemasukan tetap. Bagi para pekerja harian semacam ojek daring, pedagang kecil, kuli bangunan dan pekerjaan lainnya yang digaji per hari, WFH menjadi awal mula petaka kehidupan mereka. Mereka tidak punya pilihan, setiap hari mereka sudah terbiasa berjuang antara hidup dan mati. Bagaimana tidak, jika hari ini tidak bekerja artinya tidak ada makanan yang terhidang, tidak ada kebutuhan hidup yang bisa dipenuhi.

Seperti judul tulisan ini. Apa iya ini adalah keluh kesah kita yang terkabul?

‘capek banget tiap hari kerja kaya gini terus’ keluh kita di sore hari sembari menunggu lampu merah berubah jadi hijau.

‘enak banget kali ya, bisa duduk doang di rumah tapi duit ngalir terus’, khayal kita dikala penat dengan setumpuk pekerjaan yang harus selesai hari itu juga.

‘kapan ya bisa kumpul sama keluarga’, kita membatin ketika harus lembur saat akhir pekan.

Atau barangkali ini semua adalah keluh kesah kita saat Ramadhan entah tahun kapan. Kita yang katanya ingin melewati bulan Ramadhan dengan penuh kekhusyu’an. Kita yang katanya penat dengan segala aktivitas duniawi. Kita yang katanya ingin setiap detik di bulan Ramadhan menjadi lumbung pahala untuk kehidupan akhirat kelak.

Maka mari jalani dengan penuh keridhaan. Barangkali memang kita harus dipaksa dunia melalui makhluk Allah yang tak kasat mata ini untuk menikmati keluh kesah kita yang akhirnya terkabulkan, meskipun dalam kondisi yang jauh dari ideal.

Kelas Marathon

Bismillaah..

Assalamu’alaikum. Hi, Moms.. *nyapa ala2 vloger 😂

Akhirnya aku mulai aktif nge-blog lagi. Yeaaaay… Karena sekarang ini aku lagi ikut kelas Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional. Sebelumbya aku udah lulus doong kelas matrikulasi, baru aja bulan Januari wisudaan *cailah..

Nah, kenapa ku kasih judul kelas marathon? Karenaaa, ini kelasnya bener2 ngajak lari banget.. beda sama kelas matrikulasi yg super duper nyantai..

Bayangin aja, siangnya materi diposting di Google Clasroom (GC), malemnya diskusi. Ditengah2 diskusi, Nice Home Work (NHW) terbit. Kalo pas kelas matrikulasi due date nya semingguan, di kelas BunSay cuma 2 hari. Which is kita harus udah setor tugas itu, ya lusa. Huh hah huh hah..

Daaan seminggu ini masih Pra Bunsay. Tetep ada NHW. Tapi lebih ke pemanasan sih. Materi Pra BunSay 1 cuma perkenalan aja..

Yang kedua tentang Manajemen Waktu, fungsinya udah tentu supaya kita bikin daily planner dan mengatur strategi kapan kita akan fokus ngerjain tugas dan aktif di kelas.

Yang ketiga ituuu paling bikin baper deh. Self Healing. Sebagai awalan, materi ini tuh ngajakin kita berdamai sama diri sendiri. Terutama kalo kita punya trauma di masa lalu. Kenapa? Karena apa yang masih mengganjal di hati kita, itu imbasnya bisa ke pola pengasuhan kita terhadap anak, sikap kita ke suami dan ke orang-orang disekitar kita..

Yang keempat, yang baruuu aja dibahas di kelas adalah tentang Aktualisasi Diri. Gimana kita bisa tetep berkarya, mengembangkan potensi tapi tanpa meninggalkan kewajiban utama kita sebagai seorang istri dan ibu.

Nah segitu dulu ya, Moms.

Nanti insyaa Allah akan aku tulis lengkap di sini, setiap materi yang didapat dari kelas Bunda Sayang-nya Institut Ibu Profesional.

Wassalaamu’alaikum.. (:

20 Maret 2019 – 23.42

#iip
#institutibuprofesional
#prabunsay
#kelasbundasayang
#bundasayangiip
#bundasayangbatch5
#batch5p

Surat terbuka untuk Kiran

Surat Terbuka untuk Kiran..

PERMINTAAN MAAF ABI dan UMMI

Anakku, maafkan orangtuamu,

Kami tak memberimu susu formula, yang menurut iklan2 sangat baik untuk tumbuh kembang anak. Cukuplah asi ummi mu untuk 2 tahun ini, mudah2an kamu jadi anak sehat alami ya, Nak.
Anakku, maafkan orangtuamu, Kami tetap memberimu imunisasi dan berbagai vaksin, padahal banyak diantara teman abi dan ummi tidak memberikan kepada anaknya. Kami tak punya ilmu nya, Nak.. Kami cuma ikut saja dengan ilmuwan muslim yang kami percaya bahwa ia muslim yang hanif, kami juga ikut fatwa MUI, Nak yang telah menyatakan kehalalan nya. Kami hanya menyerahkan suatu hal pada ahlinya.

Anakku, maafkan orangtuamu,
Jika nanti saat nya tiba bagimu masuk sekolah, seberapapun mampunya keluarga kita nanti, mungkin nasib kamu akan tetap masuk sekolah negeri. Bukan nya kami tidak mau kamu masuk sekolah swasta mahal, atau SDIT yang menawarkan hapalan2 ayat Qur’an. Ayat-ayat yang bisa kau hapal di rumah, Nak, bersama Ummi mu. 

Kami hanya tidak ingin mencabut kesempatan mu untuk berteman dengan rakyat kecil. Berteman dengan anak tukang gorengan, berteman dengan anak kuli bangunan. Merasai kehidupan mereka, dan bersyukur dengan kehidupanmu. Kami ingin di suatu masa nanti, ketika kamu dan dialektikamu sudah tinggi dan mengangkasa, kakimu tetap berpijak di bumi.

Anakku, maafkan orangtuamu,

Kami akan tetap menggunakan kata tidak dan jangan dalam mendidik mu, kendati banyak orang tua modern saat ini ramai2 menghapal kosakata pengganti kata tidak dan jangan. Bagaimana kami tidak menggunakannya, sedangkan Al Quran saja memuat banyak sekali larangan dengan kata jangan. Kami mencoba mengikuti perbuatan Rasul, Nak, ketika Beliau melihat seorang anak yang mengambil buah dari pohon yang bukan miliknya, Rasul melarang anak tersebut, dan menunjukkan lebih baik ambil yang sudah terjatuh di tanah. Bagi kami kata jangan dan tidak adalah ketegasan. 

Kami ingin kamu belajar bahwa dunia ini punya aturan. Kelak ketika engkau bertindak dan bersikap nanti saat dewasa, bukan sebatas kebaikan subjektif yang kau ikuti nak, tapi aturan Islam. 
Orang tuamu sudah paham, Nak, kebaikan tanpa landasan sangat mudah tereduksi, kami melihat di zaman kami, pernikahan sesama jenis dianggap kebaikan dan cinta. Itulah kebaikan yang tidak berlandasan.

Nak, maafkan Abi dan Ummi. Kami sayang kamu. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu.

Jakarta, 12 Maret 2015

Dari Abi dan Ummi, untuk Kiran dan adik2nya kelak.  

 
Nb. Tulisan dibuat oleh Abi..