Surat terbuka untuk Kiran

Surat Terbuka untuk Kiran..

PERMINTAAN MAAF ABI dan UMMI

Anakku, maafkan orangtuamu,

Kami tak memberimu susu formula, yang menurut iklan2 sangat baik untuk tumbuh kembang anak. Cukuplah asi ummi mu untuk 2 tahun ini, mudah2an kamu jadi anak sehat alami ya, Nak.
Anakku, maafkan orangtuamu, Kami tetap memberimu imunisasi dan berbagai vaksin, padahal banyak diantara teman abi dan ummi tidak memberikan kepada anaknya. Kami tak punya ilmu nya, Nak.. Kami cuma ikut saja dengan ilmuwan muslim yang kami percaya bahwa ia muslim yang hanif, kami juga ikut fatwa MUI, Nak yang telah menyatakan kehalalan nya. Kami hanya menyerahkan suatu hal pada ahlinya.

Anakku, maafkan orangtuamu,
Jika nanti saat nya tiba bagimu masuk sekolah, seberapapun mampunya keluarga kita nanti, mungkin nasib kamu akan tetap masuk sekolah negeri. Bukan nya kami tidak mau kamu masuk sekolah swasta mahal, atau SDIT yang menawarkan hapalan2 ayat Qur’an. Ayat-ayat yang bisa kau hapal di rumah, Nak, bersama Ummi mu. 

Kami hanya tidak ingin mencabut kesempatan mu untuk berteman dengan rakyat kecil. Berteman dengan anak tukang gorengan, berteman dengan anak kuli bangunan. Merasai kehidupan mereka, dan bersyukur dengan kehidupanmu. Kami ingin di suatu masa nanti, ketika kamu dan dialektikamu sudah tinggi dan mengangkasa, kakimu tetap berpijak di bumi.

Anakku, maafkan orangtuamu,

Kami akan tetap menggunakan kata tidak dan jangan dalam mendidik mu, kendati banyak orang tua modern saat ini ramai2 menghapal kosakata pengganti kata tidak dan jangan. Bagaimana kami tidak menggunakannya, sedangkan Al Quran saja memuat banyak sekali larangan dengan kata jangan. Kami mencoba mengikuti perbuatan Rasul, Nak, ketika Beliau melihat seorang anak yang mengambil buah dari pohon yang bukan miliknya, Rasul melarang anak tersebut, dan menunjukkan lebih baik ambil yang sudah terjatuh di tanah. Bagi kami kata jangan dan tidak adalah ketegasan. 

Kami ingin kamu belajar bahwa dunia ini punya aturan. Kelak ketika engkau bertindak dan bersikap nanti saat dewasa, bukan sebatas kebaikan subjektif yang kau ikuti nak, tapi aturan Islam. 
Orang tuamu sudah paham, Nak, kebaikan tanpa landasan sangat mudah tereduksi, kami melihat di zaman kami, pernikahan sesama jenis dianggap kebaikan dan cinta. Itulah kebaikan yang tidak berlandasan.

Nak, maafkan Abi dan Ummi. Kami sayang kamu. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu.

Jakarta, 12 Maret 2015

Dari Abi dan Ummi, untuk Kiran dan adik2nya kelak.  

 
Nb. Tulisan dibuat oleh Abi.. 

Ibu untuk Anak Kita

Ibu untuk Anak Kita

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah Ta’ala telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim….

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.

Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi…

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri.

Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah karena sangat sulit menemukan acara bergizi. Sampah jauh lebih banyak). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu. Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.

Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002, edisi revisi insya Allah akan diterbitkan Pro-U Media). Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya.

Nah. Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, ia cenderung akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar-bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki semangat yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Ya… ya… ya…, cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

(Sumber: Catatan di Fanpage FB Ust.Mohammad Fauzil Adhim)

Satu Purnama

Satu Purnama, bersamamu;

Mengenal sosokmu lebih jauh lagi

Belajar memahami kepribadianmu

Menerka-nerka; suka-tidak suka; ridho-tidak ridho

Satu Purnama, bersamamu;

Menyadarkanku akan tujuan utama pernikahan kita

Tatkala sisi manusiawiku meminta kehadiranmu di sisi,

sementara kamu tengah menghabiskan waktumu untuk Allah, untuk dakwah..

Hingga suatu malam, nasihatmu membuatku malu:

“Kita bertemu dalam nuansa keta’atan. Aku mencintaimu karena Allah, maka jagalah Allah selalu.. Semakin engkau ta’at, maka semakin besar juga cinta ini.”

Satu Purnama, bersamamu;

Semakin aku mensyukuri,

menjalani hari-hari atas takdir terindah dariNya

menjadi pendampingmu, lelaki cahaya

Satu Purnama, bersamamu

Jangan pernah lelah menasihatiku dengan kesabaranmu.
Uhibbuka fillaah, lillaah :”)

10.36; 4 Mei 2015

Posted from wordpress for iOS

Tentang Raga

Padamu yang Allah pilihkan untukku..

Lelaki shalih yang gemetar tubuhnya selepas melafalkan akad, sebuah perjanjian yang berat, mitsaqan ghalizha.. Hingga membuatmu tersedu, tercekat saat kamu melantunkan Ar Rahmaan sebagai hadiah untukku.. 

Lelaki asing yang kini aku sebut sebagai suami.. Yang mendekapku erat setiap malam hingga berganti pagi.. 

Padamu yang Allah pilihkan untukku..

Lelaki penggenggam kunci surgaku, yang Ridhonya menjadi Ridho Rabbku, yang murkanya menjadi laknat malaikat untukku..

Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Betapa surga begitu dekat ketika aku bersamamu.. Kamu yang menjaga langkah kita untuk terus senantiasa di JalanNya.. 

Fabii ayyi alaa irabbikuma tukadzdzibaan.. Maka nikmat Tuhan mana lagi yg aku dustakan, mendapat karuniaNya menjadi pendampingmu, menjadi istri dari seorang lelaki surga, seorang lelaki yang didik melalui kasih sayang seorang ibu yang luar biasa.. 

Duhai, Suamiku.. Bimbing aku dengan sabarmu, cintai aku dengan imanmu, sebab diin kita kini purnama sudah, maka jadikan pernikahan kita sebagai wasilah menuju surga.. Agar kita bisa bersama selamanya, bercengkrama tanpa kenal lelah di taman surga.. Sungguh, aku mencintaimu karena Allah :”)

Yang menahan rindu dari ujung Sumatera

23.26 WIB, di titik nol kilometer Indonesia

 

   

 

     

Bahagialah..

Untukmu yang senantiasa datang bersama hujan,

Sejak pertama datang meminta dan menemui sepasang insan mulia,

Ketika terucap janji di separuh perjalanan suci,

Semoga itu pertanda bahwa keberkahanNya senantiasa mengiringi kemanapun kakimu melangkah

Untukmu yang senantiasa datang bersama hujan,

Cukuplah do’a-do’a kebaikan kulangitkan

Semoga ketaqwaan senantiasa bertambah, bersamaan dengan berkurangnya jatah hidup di dunia

Untukmu yang senantiasa datang bersama hujan,

Memohonlah padaNya, agar Ia senantiasa menjaga hati-hati kita untuk tetap setia melangkah di JalanNya

Maka berbahagialah, di hari jum’at yang penuh berkah

semoga keberkahan senantiasa tercurah, bersamaan dengan jutaan rintik air hujan yang tumpah..

16.49

Stasiun Kota, bersama dengan rintik hujan, dan lantunan Ar Rahman..